Kamis, 31 Maret 2016

Industri Baja di Tahun 2016 Bertumbuh Drastis



Berdasarkan artikel dari Liputan6, November 2015, Pembangunan infrastruktur, konstruksi yang terus tumbuh, dan industri termasuk galangan kapal dan otomotif membutuhkan bahan baku baja. Kebutuhan baja kasar (crude steel) tercatat terus menanjak, dari 7,4 juta ton pada 2009 menjadi 12,7 Juta ton pada 2014. Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan, guna memenuhi permintaan baja domestik dan menghindari ketergantungan yang tinggi terhadap baja impor, maka masih diperlukan banyak investasi di sektor baja.

"Hal ini diperlukan juga untuk dapat memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur di Indonesia yang diperkirakan sekitar Rp 5.000 triliun sampai dengan 2019 dan membutuhkan baja sekitar 17,5 Juta ton per tahun," ujar dia di Jakarta, Rabu (25/11/2015).

Industri besi dan baja juga menjadi salah satu industri prioritas lantaran merupakan bahan baku dasar bagi industri lainnya antara lain industri galangan kapal, industri di sektor migas, alat berat, otomotif, dan eletronika. Selain itu, industri besi dan baja adalah salah satu pendukung utama dalam rangka pembangunan infrastruktur di Indonesia antara lain jalan, bandara, pelabuhan, rel kereta api, dan beberapa fasilitas lainnya.

Dukungan dari pemerintah terhadap perkembangan industri baja pun dilakukan dengan membentuk kebijakan SNI Wajib untuk Produk besi baja, tata niaga impor besi atau baja, Program Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dan inisiasi tindakan perdagangan (trade remedies).             

"Dalam rangka pengembangan industri besi baja nasional pemerintah telah memberi fasilitas bagi investasi baru maupun perluasan industri berupa pemberian tax holiday dan tax allowance," kata Menteri Perindustrian Saleh Husin melalui siaran pers di Jakarta, Selasa (24/11/2015).

Perkembangan industri baja pun pada beberapa kawasan industri terlihat cukup mendominasi karena kebutuhannya seperti yang ada pada Kawasan Industri Modern Cikande. Perusahaan baja yang berlokasi pada kawasan industri ini pada tahun 2015 mencapai 36 perusahaan dengan total penggunaan lahan 106 ha.

Menurut Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) I Gusti Putu Suryawirawan kepada Bisnis.com, November 2015, menyampaikan kondisi industri baja nasional menunjukkan perkembangan positif dari tahun ke tahun. Tercatat 352 perusahaan industri baja nasional yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi mampu menyerap 200.000 tenaga kerja dengan kapasitas produksi mencapai 14 juta ton per tahun.

Pemerintah berharap pada tahun 2016 industri baja akan meningkat seiring dengan peningkatan industri, infrastruktur berdasarkan program-program pemerintah.

Di Tahun 2016 Secara Dominan Industri Kimia Dasar Bertumbuh Secara Pesat



Diberitakan oleh beritasatu.com beberapa industri diantaranya adalah industri kimia dasar, farmasi, logam serta makanan minuman diproyeksikan oleh Menteri Perindustrian pada Desember 2015 akan mampu tumbuh sebesar 8.5%-8.7%.  Meningkatnya persentase pertumbuhan industri Kimia dasarmenurut Menperin diakibatkan oleh kemungkinan pertumbuhan ekonomi yang akan membaik di Indonesia sehingga mendorong pada meningkatnya kebutuhana bahan kimia yang diperlukan oleh berbagai kelompk industry seperti industri plastik yang diperkirakan akan naik 8% dan semen yang diperkirakan akan naik sekitar 10%-14%.

Berdasarkan keterangan Purnama Dewi Kepala Badan Penanaman Modal dan Promosi (BPMP) Sumatra Utara kepada antaranews.com, sektor-sektor industri utama seperti sektor kimia, listrik dan gas dianggap tetap diminati serta mendominasi investasi di Sumatra Utara. Penanaman Modal Asing (PMA) di Sumatra Utara sendiri mencapai Rp.4,865 triliun. PMA dengan jumlah Rp.11,749 triliun di Medan akan mendominasi iklim investasi dibandingkan dengan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dengan jumlah Rp.3,098 Triliun.

Di Banten pada tahun 2015, menurut keterangan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibrani kepada antaranews.com, selama Triwulan 1 - 2015 terdapat 236 proyek Industri Kimia Dasar, Barang Kimia dan Farmasi dengan nilai realisasi investasi total Rp 10,1 triliun atau berkontribusi sebesar 8,1 persen dari total realisasi investasi pada triwulan I 2015 sebesar Rp124,6 triliun.

 Industri ini terus maju sejak diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 2015 tentang fasilitas pajak penghasilan untuk penanaman modal di bidang - bidang usaha tertentu dan/atau di daerah-daerah tertentu/tax allowance diharapkan dapat meningkatkan investasi di sektor ini.

Hal ini juga pertumbuhan juga terlihat dari jumlah tenant tertinggi selama tahun 2015 di salah satu Kawasan Industri yaitu Kawasan Industri Modern Cikande adalah kimia dasar. Berdasarkan data profile tenant Kawasan Industri Modern Cikande jumlah industri kimia dasar yang berlokasi di Kawasan Industri Modern Cikande mencapai 42 perusahaan dengan total penggunaan lahan 86 ha.

Kemungkinan untuk bertumbuhnya industri kimia dasar sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan industri lainnya di tahun 2016. Pertumbuhan ini sangat dimungkinkan karena kebijakan-kebijakan pemerintah periode Joko Widodo sangat mendukung pertumbuhan industri lewat investasi asing.

Indonesia Sebagai Tujuan Investasi China di Tahun 2016




Pada tahun 2013, Indonesia memperoleh predikat sebagai tempat terbaik untuk investasi ke 4 di seluruh dunia berdasarkan riset lembaga konsultan internasional, A.T Kerney dan PBB melalui United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD). Di tahun 2015, Para investor yang menghadiri World Economic Forum on East Asia (WEF EA) menilai Indonesia sebagai tempat terbaik melakukan investasi.

"Mereka cukup optimistis bahwa Indonesia merupakan tempat untuk melakukan investasi paling baik sekarang ini," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil di sela perhelatan WEF EA di Jakarta, Selasa (21/4/2015).

Tidak hanya para investor dari swasta saja yang ingin melakukann investasi. Hingga kini, beberapa negara sudah menjalani kesepakatan bersama dengan pemerintahan Indonesia. China sudah siap untuk mengeluarkan modal US$100 miliar untuk mendanai proyek infrastruktur Indonesia dengan komitmen investasi setara dengan Rp.1.361,55 triliun, dengan asumsi kurs per 11/08/2015 sebesar Rp.13.615,5 per US$.

Nota kesepahaman kerjasama atau Memorandum of Understanding (MoU) proyek ini telah ditandangani bersamaan dengan lawatan Presiden Jokowi saat Konferensi Tingkat Tinggi Asia Pacific Economic Cooperation (KTT APEC) di Beijing pada November tahun lalu. Hal ini membuktikan keseriusan China dalam menjalin kerja sama dan investasi dengan Indonesia.

Perusahaan-perusahaan dari China juga telah menganggap Indonesia sebagai tempat investasi yang menarik. Hal ini terlihat dari 10 perusahaan asal China beroperasi di kawasan industri terbesar di Banten, Kawasan Industri Modern Cikande. Perusahaan-perusahaan asal China ini menggunakan lahan di Kawasan Industri Modern Cikande sebesar 57 ha.

Berdasarkan pantauan Detik.com Deputi Bidang Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal, Azhar Lubis menyebutkan, faktor testimoni atau informasi kesuksesan berinvestasi yang menyebar dari mulut ke mulut antar investor China, jadi alasan minat investasi dari negeri Tirai Bambu ini melonjak tajam.      

"Semakin ke sini semakin banyak success story, bahwa ternyata Indonesia Tidak susah. Awal investor datangkan how to do business, akhirnya ke sini-sini sudah tahu untuk  bebaskan lahan, sudah tahu layanan izin 3 jam, urus IMB, sudah tahu ada BKPM," ungkap Azhar, saat ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (3/2/2016).

Sepanjang Januari nilai komitmen investasi China sebesar US$ 1,81 miliar atau menyumbang 23% dari total minat investasi yang masuk, dengan pertumbuhan 1.564% dibanding Januari tahun lalu. Sementara Singapura di posisi pertama menyatakan minat investasi US$ 7,5 miliar atau tumbuh 413%.

Penggerak Pertumbuhan Industri 2016

????????????????????????????????????
Pada tahun 2015 lalu tepatnya pada tanggal 18 Desember 2015, Menteri Perindustrian Republik Indonesia Saleh Husin meyakini bahwa pertumbuhan industri tahun 2016 akan meningkat. Kemetrian Perindustrian memproyeksikan bahwa tahun 2016 akan terjadi peningkatan investasi kembali. Hal ini diyakini secara optimis karena pertumbuhan sektor industry non migas pada tahun 2014 dan 2015 ada dikisaran 5.7% - 6.1%.
Sektor yang diharapakan menjadi bagian dari penggerak pertumbuhan industri adalah sektor industri kimia, farmasi dan obat tradisional, industri barang logam, peralatan listrik, industri makanan dan minuman. Secara spesifik diharapkan sektor industri kimia, farmasi dan obat tradisional akan mampu tumbuh sebesar 8.5% – 8.7%. Sektor industri makanan dan minuman diharapkan akan tumbuh 7.4% - 7.8%.

Beberapa industri lain yang akan terkena dampak dari pertumbuhan industri lain adalah industri kimia dasar. Pertumbuhan industri kimia dasar akan naik seusuai dengan permintaan kebutuhan bahan kimia dari berbagai kelompok industri, seperti industri plastik yang diperkirakan naik sekitar 8% dan industri semen yang diproyeksikan  naik sekitar 10% – 14%.

Trend lain yang diperkirakan akan terjadi oleh Kementrian Perindustrian Republik Indonesia adalah pertumbuhan yang akan dicapai oleh Industri Barang Logam yang diantaranya adalah Komputer, Barang Elektronik, Optik, dan Peralatan Listrik yang diperkirakan dapat tumbuh sekitar 8,0 – 8,2 persen. Dari kelompok industri ini, industri barang logam bukan mesin dan peralatannya diperkirakan akan berkontribusi paling dominan dalam pertumbuhan di kelompok ini, karena industri ini sejak tahun 2011 memiliki kecenderungan pertumbuhan nilai tambah yang tinggi karena didorong oleh permintaan ekspor dan investasi yang relatif tinggi.
Logo Kementerian Perindustrian

Harapan dan keyakinan dari Menteri Perindustrian memiliki kemungkinan untuk tercapai di tahun 2016 ini, pasalnya pada tahun ini pemerintah Indonesia merealisasikan berbagai kebijakan yang menguntungkan para investor asing yang mau berinvestasi di Indonesia. Kebijakan yang secara langsung dan tidak langsung akan mempengaruhi investor dan menggerakan pertumbuhan industri di tahun 2016, berdasarakan Rapat Kerja Kementrian Perdagangan tahun 2016 yang dihadiri oleh Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perindustrian Saleh Husin dan Menteri Perdagangan Thomas Lembong; kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya adalah:

  1. Diturunkannya bea masuk untuk bahan baku industri
  2. Dikenakannya bea keluar atau pelarangan ekspor untuk bahan baku kulit, kakao, CPO, rotan kayu dan karet untuk menjamin ketersediaan bahan baku produksi]
  3. Penurunan suku bunga untuk biaya investasi dan modal kerja melalui lembaga pembiayaan ekspor sampai terbentukya lembaga pembiayaan industri.
  4. Peninjauan atau optimalisasi regulasi lingkungan hidup, kesehatan dan keselamatan.
  5. Dukungan regulasi dan infrastruktur untuk memperlancar logistik pada kawasan industri tertentu.

Pemerintah memiliki kepentingan untuk membangun infrastruktur pendukung dengan tujuan untuk memperlancar kegiatan ekonomi dan kegiatan usaha. Dukungan pemerintah secara nyata tampak pada pembukaan jalan tol Cikande untuk mensupport Kawasan Industri Modern Cikande sehingga kegiatan usaha pada kawasan industri itu akan berjalan dengan lancar dan lebih baik. Implementasi kebijakan-kebijakan ini diharapkan akan mampu memfasilitasi tujuan pemerintah dalam menggerakan roda pertumbuhan industri di tahun 2016 sehingga pertumbuhan industri dan ekonomi yang diharapkan dapat tercapai dengan maksimal.

Rabu, 30 Maret 2016

Alasan Kenapa Berinvestasi di Indonesia

Investasi-di-indonesia
Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah karena memiliki iklim yang baik sebagai negara tropis dan mempunyai letak yang strategis di antara Samudra Pasifik dan Hindia. Kekayaan alam Indonesia yang sangat beragam dan berlimpah memberikan kesempatan yang tinggi bagi para investor di seluruh dunia untuk tidak melewatkan Indonesia sebagai negara untuk investasi. Beberapa saat yang lalu, Indonesia memperoleh prediket sebagai tempat terbaik untuk investasi ke 4 di seluruh dunia berdasarkan riset lembaga konsultan internasional, A.T Kerney dan PBB melalui United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD).
Ada beberapa alasan mengapa Indonesia tidak dapat dilewatkan sebagai tempat berinvestasi. BPKM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) Republik Indonesa memaparkan beberapa alasan, diantaranya adalah:
  1. Perekonomian yang Sehat
Indonesia adalah pendorong pertumbuhan ekonomi Asia. Dengan PDB mencapai US$ 870 milyar di tahun 2014, Indonesia memiliki ekonomi terbesar di Asia Tenggara.

  1. Stabilitas Politik
Stabilitas politik menjadi dasar dinamika kehidupan ekonomi di Indonesia. Sejak bangkit dari pemerintahan otokrasi 17 tahun yang lalu, Indonesia, yang baru saja berhasil menjalankan demokrasi.

  1. Iklim Berinvestasi
Seiring dengan ketahanan ekonomi Indonesia pada masa krisis keuangan global dan sesudahnya, pemerintah terus melakukan reformasi iklim investasi untuk menciptakan tujuan investasi yang aman dan menarik.

  1. Sumber Daya Alam
Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam mulai dari menjadi produsen utama gas alam cair dan peningkatan industri pertambangan. Minyak bumi dan mineral merupakan komoditas utama ekspor.

  1. Demografi
Indonesia mengalami pergeseran struktur kependudukan yang dikenal dengan istilah ‘bonus demografi’ dimana jumlah kelompok kerja produktif di tahun 2025-2035 akan mendominasi.

  1. Pasar Domestik
Sebagai negara dengan populasi penduduk ke-4 terbesar di dunia, lebih dari 53% penduduk Indonesia hidup di daerah perkotaan dengan gaya hidup modern dan kemampuan daya beli masyarakat yang meningkat.

  1. Pasar Global
Indonesia memainkan peran yang lebih dominan dalam isu-isu global. Sebagai satu-satunya negara anggota G-20 dari Asia Tenggara, Indonesia aktif menyuarakan kepentingan negara-negara berkembang.

Disamping semua alasan yang telah disebutkan diatas, Indonesia juga saat ini sedang aktif dalam pembangunan infrastruktur pendukung kegiatan perindustrian dan mempermudah perizinan serta kesempatan investasi asing untuk masuk. Pemerintah Indonesia pada periode ini juga memiliki program untuk mengembangkan kawasan industri hingga timur Indonesia dan pembangunan infrastruktur pendukungnya. Kawasan industri yang telah ada seperti; Kawasan Industri Modern Cikande pun juga akan dipengaruhi kebijakan ini, akses gerbang tol Cikande akan dibuka sehingga memperlancar kegiatan bisnis pelaku industri dan investor. Kedepannya pemerintah Indonesia memiliki rencana jangka panjang untuk mempermudah dan mengembangkan iklim investasi di Indonesia.

Gambaran Umum Investasi Asing di Indonesia pada Tahun 2016

Peti Cikande

Indonesia dalam pemerintahan Jokowi menggalakan  dan mempermudah proses investasi di Indonesia pada Februari 2016 lalu, dikutip dari Detik.com, Presiden Jokowi menyampaikan keynote speech di dalam acara US-ASEAN Business Council (US-ABC) yang menjadi bagian dari rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN-Amerika Serikat (AS).       

Pada kesempatan itu Jokowi sempat menjelaskan, bahwa kini berinvestasi di Indonesia sudah lebih mudah. Sudah hampir tidak ada lagi izin yang panjang dan birokrasi yang berbelit-belit. Di antaranya adalah penyederhanaan serta pembenahan perizinan, peraturan yang tumpang tindih, termasuk deregulasi Daftar Negatif Investasi (DNI). Dalam pidatonya Jokowi menjelaskannya, "Saat ini, kita harus memberlakukan kebijakan yang sama di emerging markets, yakni membebaskan bisnis dan industri dari undang-undang dan peraturan yang berlebihan.”
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh A.T Kerney dan Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), United Nations Conference on Trade Development (UNCTAD). Indonesia berada di urutan ke empat. 5 besar negara yang termasuk dalam daftar adalah sebagai berikut:
  1. China
  2. Amerika Serikat
  3. India
  4. Indonesia
  5. Brasil
  6. Jerman
  7. Mexico
  8. Thailand
  9. Inggris Jepang
Dikutip dari koran sindo.com, 3 Tahun Terakhir Salah satu indikator untuk mengukur kemudahan berinvestasi di suatu negara adalah kemudahan berbisnis. Terkait hal ini Bank Dunia (World Bank) mengeluarkan laporan bertajuk Doing Business 2016. Indonesia hanya mampu merangsek ke posisi 109 dari sebelumnya di peringkat ke-114 pada 2015.
Data-data terkait yang membuat Investasi Asing di Indonesia menjadi yang tertinggi di ASEAN di tahun 2015:
  1. Menurut laporan World Investment Report 2015 UNCTAD, Indonesia mengalami kenaikan penanaman modal asing sebesar 20% ke angka USD22,6 miliar dari USD18,8 miliar dibanding tahun sebelumnya.
  2. Pertumbuhan investasi asing di Indonesia ini merupakan tertinggi kedua di Asia Timur, sedangkan dari sisi nilai PMA merupakan terbesar keempat.
  3. Di Asia Tenggara, pertumbuhan PMA Indonesia sebesar 20% dan tertinggi di antara negara lainnya.
  4. Pertumbuhan PMA Singapura hanya mencapai 4,2% meskipun jumlah PMA-nya sebesar USD67,5 miliar, atau tiga kali lipat lebih besar dari Indonesia.
  5. Thailand mengalami penurunan pertumbuhan investasi sebesar 10,3%.
  6. Vietnam hanya berhasil membukukan investasi asing senilai 3% akibat kebijakan peningkatan upah minimum.
Saat ini yang mejadi sorotan juga adalah pengarahan pembangunan infrastruktur peridustrian kepada Kawasan Industri. Investasi yang ada di Indonesia diyakini oleh pemerintah Republik Indonesia harus dilengkapi oleh infrastruktur dan prasarana yang mumpuni agar kegiatan ekonomi dan industri bisa berjalan dengan lancar. Kawasan Industri Modern Cikande merupakan salah satu Kawasan Industri yang masuk dalam daftar Kawasan Industri yang menjadi rekomendasi Kementrian Perindustrian Republik Indonesia selain Kawasan Industri lainnya seperti Kawasan Industri Pulo Gadung dan Kawasan Industri Jababeka Bekasi.

Minggu, 27 Maret 2016

Pengembangan Kawasan Industri di Indonesia


kawasan_industri_km

Di tahun 2016 ini, secaraa umum pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla di Indonesia berfokus pada beberapa hal penting yang diantaranya adalah pembangunan industri. Pada Rabu, 20 Januari lalu, Presiden Jokowi membentuk KEIN (Komite Ekonomi dan Industri Nasional) yang memiliki fungsi sebagai komite yang membuat peta arah perekonomian dan industri Indonesia secara jangka pendek, menegah dan panjang. Presiden Jokowi pun menitik beratkan bahwa rencana pembangunan perekonomian akan dilakukan via indutrialisasi. Seperti yang dilansir oleh tim Komunikasi Presiden, lewat presidenri.go.id sempat berkata bahwa “Targetnya memang industrialisasi, hilirisasi ekspor barang setengah jadi atau barang jadi sehingga ada nilai tambah,”.

Beberapa pengaplikasian dari rencana presiden untuk pembangunan industri selain terbentuknya KEIN juga  Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019 yang mengarah pada menarik investasi industri dengan menyediakan tempat industri tersebut dibangun. Artinya, pemerintah akan menyediakan tempat yang sudah menyediakan sarana dan prasana yang dibutuhkan. Jika hal ini sudah dicapai, barulah pemerintah menyusun kebijakan yang menyangkut arah penumbuhan populasi, serta arah peningkatan produktivitas.

Senada dengan Presiden Jokowi, diberitakan pula oleh Kemenperin (Kementrian Perindustrian Republik Indonesia) bahwa fokus pembangunan kawasan industri diarahkan pada Indonesia bagian Timur. Kemenperin menargetkan 36 kawasan industri baru dibangun hingga 2035. Lokasinya berada di Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara. Dari jumlah itu, sebanyak 32 kawasan telah memiliki dokumen perencanaan.

Hasil dari tindak lanjut pembangunan kawasan industri di Indonesia. Di bulan Mei tahun 2015, Presiden Jokowi menetapkan 13 Kawasan Industri (KI) yang mencakup Bintuni – Papua Barat; Buli – Halmahera Timur – Maluku Utara; Bitung – Sulawesi Utara; Palu – Sulawesi Tengah; Morowali – Sulawesi Tengah; Konawe – Sulawesi Tenggara; Bantaeng – Sulawesi Selatan; Batulicin – Kalimantan Selatan; Ketapang – Kalimantan Barat; Landak – Kalimantan Barat; Kuala Tanjung, Sumatera Utara; Sei Mangke – Sumatera Utara; dan Tanggamus – Lampung.

Ditetapkan kawasan 13 Kawasan Industri baru ini, meyakinkan kita bahwa kedepannya dunia perindustrian Indonesia akan semakin berkembang dan memiliki arah. List panjang kawasan industri yang ada di Indonesia akan semakin bertambah dan merata hingga penjuru timur Indonesia. Kawasan industri seperti Kawasan Indusri Modern Cikande yang sudah memiliki fasilitas pendukung investasi yang lengkap akan terhubung dengan kawasan-kawasan industri yang baru, sehingga kegiatan industri Indonesia menjadi satu mata rantai yang terus tersambung dari barat hingga timur Indonesia dan menggerakan roda perekonomian hingga titik maksimal.